Daisypath Happy Birthday tickers

Daisypath - Personal pictureDaisypath Happy Birthday tickers
Daisypath - Personal pictureDaisypath Friendship tickers
Memaparkan catatan dengan label kisah-kisah teladan. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label kisah-kisah teladan. Papar semua catatan

Ahad, 10 Mac 2013

TERAPI MINDA - RIBUAN MALAIKAT MENDOAKAN ORANG YANG DI CACI.

Ribuan Malaikat Mendoakan Orang Yang Di Caci Maki (Kisah Sahabat Rasul)

Suatu hari Rasulullah SAW bertamu ke rumah Abu Bakar Ash-Shidiq. Ketika sedang berbincang dengan Rasulullah tiba-tiba datang seorang Arab Badui menemui Abu Bakar dan langsung mencela Abu Bakar. Makian kata-kata kotor keluar dari mulut orang itu. Namun Abu Bakar tidak menghiraukannya. Ia melanjutkan perbincangan dengan Rasulullah. Melihat hal ini Rasulullah tersenyum. 
Kemudian orang Arab Badui itu kembali memaki Abu Bakar. Kali ini makian dan hinaannya lebih kasar. Namun dengan keimanan yang kukuh serta kesabarannya Abu Bakar tetap membiarkan orang tersebut. Rasulullah kembali memberikan senyum.
Semakin marahlah orang Arab Badui tersebut. Untuk ketiga kalinya, ia mencerca Abu Bakar dengan makian yang lebih menyakitkan. Kali ini selaku manusia biasa yang memiliki hawa nafsu Abu Bakar tidak dapat menahan amarahnya. Dibalasnya makian orang Arab Badui tersebut dengan makian pula. Terjadilah perang mulut. Seketika itu, Rasulullah beranjak dari tempat duduknya. Ia meninggalkan Abu Bakar tanpa mengucapkan salam.
Melihat hal ini selaku tuan rumah Abu Bakar tersedar dan menjadi bingung. Dikejarnya Rasulullah yang sudah sampai halaman rumah. Kemudian Abu Bakar berkata “Wahai Rasulullah janganlah anda biarkan aku dalam kebingungan yang sangat. Jika aku berbuat kesalahan jelaskan kesalahanku!”
Rasulullah menjawab, “Sewaktu ada seorang Arab Badui datang dengan membawa kemarahan serta fitnaan lalu mencelamu, kulihat tenang, diam dan engkau tidak membalas aku bangga melihat engkau orang yang kuat menghadapi tentangan, menghadapi fitnah, kuat menghadapi cacian dan aku tersenyum kerana ribuan malaikat di sekelilingmu mendoakan dan memohonkan ampun kepadamu kepada Allah SWT.”
Begitu pun yang kedua kali ketika ia mencelamu dan engkau tetap membiarkannya maka para malaikat semakin bertambah banyak jumlahnya. Oleh sebab itu aku tersenyum. Namun ketika kali ketiga ia mencelamu dan engkau menanggapinya dan engkau membalasnya maka seluruh malaikat pergi meninggalkanmu. 
Hadirlah iblis di sisimu. Oleh kerana itu, aku tidak ingin berdekatan dengan kamu aku tidak ingin berdekatan dengannya dan aku tidak memberikan salam kepadanya.
Setelah itu menangislah Abu Bakar ketika diberitahu tentang rahsia kesabaran bahawa itu adalah kemuliaan yang terselindung.

Rabu, 5 Disember 2012

TERAPI MINDA.....SEORANG AYAH BERTAUBAT DENGAN SEBAB ANAKNYA MASIH BERUSIA 7 TAHUN

Bismillahir-Rah maanir-Rahim

Satu lagi kisah nyata di zaman ini. Seorang penduduk Madinah berusia 37 tahun telah menikah dan mempunyai beberapa orang anak. Ia termasuk orang yang suka lalai dan sering berbuat dosa besar  jarang melakukan solat kecuali sewaktu-waktu saja atau kerana untuk dilihat orang lain.
Penyebabnya tidak lain kerana ia bergaul akrab dengan orang-orang jahat dan para dukun. Tanpa ia sedari syaitan setia menemaninya dalam banyak kesempatan. 
Ia bercerita mengisahkan tentang riwayat hidupnya: 
“Saya memiliki anak laki-laki berusia 7 tahun bernama Marwan. Ia bisu dan tuli. Ia dididik ibunya perempuan solehah dan kuat imannya.
Suatu hari setelah azan maghrib saya berada di rumah bersama anak saya Marwan. Ketika saya sedang berbicara di mana berkumpul bersama teman-teman pada malam hari tiba-tiba saya dikejutkan oleh anak saya. Marwan mengajak saya bicara dengan bahasa isyarat yang ertinya ”Mengapa engkau tidak solat wahai Abi?”
Kemudian ia menunjukkan tangannya ke atas ertinya ia mengatakan bahawa Allah yang di langit melihatmu.
Terkadang anak saya melihat saya sedang berbuat dosa maka saya kagum kepadanya yang menakut-nakutkan saya dengan ancaman Allah. Anak saya lalu menangis di depan saya maka saya berusaha untuk merangkulnya tapi ia lari dariku.
Tak berapa lama ia pergi ke kamar mandi untuk berwudhu meskipun belum sempurna wudhunya tapi ia belajar dari ibunya yang juga hafal Al-Quran. Ia selalu menasihati saya tapi saya masih tidak mengendahkannya.
Kemudian Marwan yang bisu dan tuli itu masuk lagi menemui saya dan memberi isyarat agar saya menunggu sebentar lalu ia solat maghrib di hadapan saya. Setelah selesai ia bangkit dan mengambil mushaf Al-Quran membukanya dengan cepat dan menunjukkan jarinya ke sebuah ayat (yang ertinya):
”Wahai bapaku, sesungguhnya aku khuatir bahawa kamu akan ditimpa azab dari Allah Yang Maha Pemurah maka kamu menjadi kawan bagi syaitan” (Maryam: 45)
Kemudian ia menangis dengan kerasnya. Saya pun ikut menangis bersamanya. Anak saya ini yang mengusap air mata saya. Kemudian ia mencium kepala dan tangan saya setelah itu berbicara kepadaku dengan bahasa isyarat yang ertinya, ”Solatlah wahai ayahku sebelum ayah ditanam dalam kubur dan sebelum datangnya azab!” 
Demi Allah saat itu saya merasakan suatu ketakutan yang luar biasa. Segera saya nyalakan semua lampu rumah. Anak saya Marwan mengikutiku dari ruangan satu ke ruangan lain sambil memperhatikan saya dengan aneh. 
Kemudian ia berkata kepadaku (dengan bahasa isyarat), ”Tinggalkan urusan lampu, mari kita ke Masjid Besar (Masjid Nabawi).”
Saya katakan kepadanya, ”Biar kita ke masjid dekat rumah saja.”
Tetapi anak saya bersikap keras meminta saya menghantarkannya ke Masjid Nabawi.
Akhirnya, saya mengalah kami berangkat ke Masjid Nabawi dalam keadaan takut dan Marwan selalu memandang saya. Kami masuk menuju Raudhah. Saat itu Raudhah penuh dengan manusia tidak lama datang waktu iqamat untuk solat isyak saat itu imam masjid membaca firman Allah (yang ertinya),
”Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan keji dan mungkar. Sekiranya tidaklah kerana kurnia Allah dan rahmatNya kepada kamu sekalian niscaya tidak seorang pun bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendakiNya. Dan Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui” (An-Nuur: 21)
Saya tidak kuat menahan tangis. Marwan yang berada disampingku melihat aku menangis, ia ikut menangis pula. Saat solat ia mengeluarkan tisu dari sakuku dan mengusap air mataku dengannya. Selesai solat aku masih menangis dan ia terus mengusap air mataku. Sejam lamanya aku duduk sampai anakku mengatakan kepadaku dengan bahasa isyarat ”Sudahlah wahai Abi!” Rupanya ia cemas kerana kuatnya tangisanku. Saya katakan ”Kamu jangan cemas.”
Akhirnya kami pulang ke rumah. Malam itu begitu istimewa kerana aku merasa baru terlahir kembali ke dunia. Isteri dan anak-anakku menemui kami. Mereka juga menangis padahal mereka tidak tahu apa yang terjadi.
Marwan berkata tadi Abi pergi solat di Masjid Nabawi. Isteriku senang mendapat berita tersebut dari Marwan yang merupakan hasil dari didikannya yang baik.
Saya ceritakan kepadanya apa yang terjadi antara saya dengan Marwan. Saya katakan, “Saya bertanya kepadamu dengan menyebut nama Allah apakah kamu yang mengajarkannya untuk membuka mushaf Al-Quran dan menunjukkannya kepada saya?”
Dia bersumpah dengan nama Allah sebanyak tiga kali bahawa ia tidak mengajarinya. Kemudian ia berkata, “Bersyukurlah kepada Allah atas hidayah ini.”
Malam itu adalah malam yang terindah dalam hidup saya. Sekarang alhamdulillah saya selalu solat berjamaah di masjid dan telah meninggalkan teman-teman yang buruk semuanya 
Saya merasakan manisnya iman dan merasakan kebahagiaan dalam hidup, suasana dalam rumah tangga harmonis penuh dengan cinta dan kasih sayang.
Khususnya kepada Marwan saya sangat cinta kepadanya kerana telah berjasa menjadi penyebab saya mendapatkan hidayah Allah.”

Selasa, 27 November 2012

TERAPI MINDA.....KERANA DOA SI BUTA YANG MISKIN MENDAPAT JODOH YANG SANGAT CANTIK DAN JELITA

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... Kisah benar ini terjadi pada seorang buta lagi miskin yang tidak dipandang  oleh kaum wanita. Lalu dia berdoa kepada Allah Subhanahu wa Taala dan Allah pun mengabulkan doanya dengan gadis yang paling cantik di antara mereka.

Kisah ini disebutkan oleh Syaikh Abdul ‘Aziz al-‘Aql dalam muhadarahnya yang berjudul Qashash wa ‘Ibar. Kisah benar ini terjadi pada salah seorang kerabat Syaikh sendiri.

Syaikh Abdul Aziz mengatakan, “Di antara kisah yang pernah saya alami adalah seseorang dari keluarga saya yang hafal al-Quran dan yang soleh. Saya mengenalinya dan kami sangat rapat ketika kami masih kanak-kanak.

Orang tadi ahli bersilaturahim dan selalu beristiqamah untuk taat kepada Allah. Dan dia adalah orang yang buta. Pada suatu hari dia berkata kepada saya, “Hai anakku waktu itu saya berumur 16 atau 17 tahun kenapa kamu tidak menikah?”

Saya jawab, “Hingga Allah memberi saya rezeki.” Dia berkata, “Wahai anakku bersikap jujurlah kepada Allah ketuklah pintu Allah dan berharaplah pintu kelapangan akan terbuka.” Kemudian dia berkata kepada saya, “Duduklah wahai anakku, aku akan menceritakan kepadamu  apa yang pernah aku alami dulu.”

Dia melanjutkan “Saya dulu benar-benar miskin, ibu dan bapakku adalah orang miskin kami semua sangat miskin aku sendiri semenjak dilahirkan sudah menjadi orang yang buta, pendek dan miskin.

Segala sifat yang tidak disukai wanita ada padaku. Kemudian aku sangat menginginkan seorang wanita akan tetapi kepada Allah aku tumpahkan seluruh keprihatinanku kerana dengan keadaanku yang seperti itu akan sulit rasanya untuk mendapatkan seorang isteri. Aku mendatangi ayahku kemudian mengatakan, “Wahai ayah aku ingin menikah.”

Maka ayahku mentertawakanku. Aku memahami bahawa tertawanya ayah adalah sebagai isyarat agar aku berputus asa dan melupakan keinginanku untuk menikah bahkan ayahku sempat mengatakan, “Apakah engkau gila nak? Siapa yang mahu mengambilmu sebagai menantu? Pertama kamu buta. Kedua kita semua adalah orang yang sangat miskin. Sedarlah nak! Tidak ada jalan untuk itu.

Sebenarnya dengan kata-katanya itu ayah telah membunuhku. Waktu itu aku berumur kira-kira 24 atau 25 tahun. Lalu akupun pergi menemui ibuku. Mengadukan perihalku barangkali ia dapat memujuk ayahku.

Hampir saja aku menangis ketika ibuku juga mengucapkan kata-kata seperti yang diucapkan oleh ayah. Dia mengatakan “Anakku kamu akan nikah?! Apakah kamu tidak waras nak?! Siapa wanita yang mahu sama kamu?! Dari mana kamu mendapatkan harta?! Kamu tahu sendiri bahawa kita semuanya ini sangat memerlukan sedikit harta untuk hidup. Kemudian kamu juga jangan lupa bahawa hutang kita telah bertambah.”

Aku tidak berputus asa kuulangi lagi usahaku untuk memahamkan ayah dan ibuku. Akan tetapi sikap dan jawapan mereka tetap tidak berubah.

Pada suatu malam aku berkata, “Mengapa aku tidak mengadukan hal ini pada Tuhanku yang Maha Pengasih dan Penyayang? Mengapa aku merengek-rengek dihadapan ayah dan ibu yang memang tidak mampu melakukan apa-apa? Mengapa aku tidak mengetuk pintu Allah yang Maha Kuasa dan Perkasa?”

Lalu aku pun solat di akhir malam sebagaimana kebiasaanku. Aku mengangkat tangan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan aku katakan diantara doaku.

Ya Allah, Ya Tuhanku mereka mengatakan kalau aku miskin padahal Engkaulah yang membuat aku miskin. Mereka mengatakan kalau aku buta padahal Engkaulah yang mengambil penglihatanku.

Mereka mengatakan kalau aku adalah hodoh dan buruk padahal Engkaulah yang menciptakan aku. Ilahi, Tuhanku, Tuanku dan Penolongku tidak ada yang disembah yang benar kecuali Engkau, Engkau mengetahui apa yang ada di dalam jiwaku.

Engkau mengetahui keinginanku untuk menikah dan aku tidak ada daya dan upaya untuk itu. Ayah dan ibuku menyatakan tidak sanggup. Ya Allah, mereka memang tidak sanggup dan tidak mampu.

Aku memahami keadaan mereka. Tetapi Engkau adalah Maha Mulia dan Perkasa yang tidak terkalahkan oleh apapun. Ya Allah, kumohon satu rahmat dari rahmatMu. Wahai Tuhan yang Maha Mulia, Maha Pengasih dan Penyayang berikanlah kepadaku dengan segera seorang isteri yang penuh berkah, solehah dan cantik jelita. Yang menenangkan hatiku dan yang menyatukan jiwaku.

Aku berdoa sementara kedua mataku, mengucurkan air mata dan hatiku menangis merendah dihadapan Allah Subhanahu wa Taala. Kerana aku solat malam di awal waktu, maka akupun mengantuk.

Ketika aku tertidur, aku bermimpi seolah-olah aku berada di sebuah tempat yang sangat panas. Sepertinya ada bakaran api yang sangat dahsyat.

Tidak lama setelah itu aku melihat ada satu khemah yang turun dari langit. Khemah yang sangat indah mempesona belum pernah aku melihat sebelumnya. Hingga khemah itupun turun di atasku dan memayungiku.

Bersamaan dengan itu ada hawa dingin yang aku tidak mampu menceritakannya kerana benar-benar membawa sebuah kedamaian hingga aku terbangun kerana kedinginan setelah merasa kepanasan yang amat sangat. Aku terbangun dan perasaanku sangat senang dengan mimpi tersebut. Di pagi yang buta aku pergi menemui seorang alim yang dapat menafsirkan mimpi.

Maka setelah aku ceritakan apa yang kualami dalam mimpi itu, seorang alim tersebut mengatakan kepadaku, “Hai anakku, engkau sudah menikah jika tidak mengapa kamu tidak menikah?”

Maka saya katakan, “Tidak, demi Allah saya belum menikah.”

Dia bertanya, “Mengapa engkau tidak menikah?”

Kukatakan, “Demi Allah Ya Syaikh seperti yang engkau ketahui aku adalah seorang yang buta lagi miskin dan buruk rupa.” Dia berkata, “Hai anakku apakah tadi malam engkau telah mengetuk pintu Tuhan mu?” Kukatakan, “ Ya, aku telah mengetuk pintu Tuhan ku.”

Syaikh berkata, “ Pergilah wahai puteraku perhatikanlah gadis yang paling cantik dalam fikiranmu dan pinanglah kerana pintu itu telah terbuka untukmu. Ambillah yang terbaik apa yang ada dalam dirimu dan jangan merasa rendah dengan mengatakan, “Aku adalah seorang yang buta maka aku akan mencari wanita yang buta pula jika tidak maka yang begini dan yang begitu. Tetapi perhatikanlah gadis yang terbaik kerana pintu itu telah dibuka untukmu.”

Setelah aku berfikir dalam diriku aku memilih gadis yang dikenal sebagai gadis yang paling cantik di daerah itu disamping memiliki nasab dan keluarga yang terhormat.

Maka aku mendatangi ayah kukatakan barangkali ayah mahu pergi kepada mereka untuk meminang gadis itu untukku. Ayah menolak dengan keras lebih keras dari penolakannya yang pertama.

Dia benar-benar menolak secara mentah-mentah mengingatkan rupaku yang buruk dan kemelaratanku apalagi gadis yang kuinginkan adalah gadis yang paling cantik di negeri itu.

Maka aku pergi sendiri. Aku bertemu kepada keluarga itu mengucapkan salam kepada mereka dan mengatakan kepada orang tuanya, “Saya menginginkan Fulanah (maksudnya puterinya).”

Dia menjawab, “Kamu menginginkan puteriku?” Saya jawab, “Ya.”

Maka dia menjawab, “Demi Allah, ahlan wasahlan wahai anak si Fulan, selamat datang wahai pembawa Al-Quran demi Allah hai puteraku kami tidak mendapatkan laki-laki yang lebih baik darimu akan tetapi aku berharap agar puteriku mau menerimanya.”

Kemudian ia pergi menemui puterinya dan mengatakan, “Wahai puteriku ini Fulan datang meminangmu. Memang dia buta akan tetapi dia hafal Al-Quran dia menyimpan Al-Quran di dalam dadanya. Apabila engkau dapat merelakannya untukmu maka tawakkallah kepada Allah.” Sang puteripun menjawab, “Sesudahmu tidak ada hal lain wahai ayah, kami bertawakkal kepada Allah.”

Selang selepas hari tersebut wanita cantik itupun menjadi isteri bagi si buta yang miskin dengan taufik Allah dan kemudahan dariNya kerana keutamaan Al-Quran.
 Walhamdulillahirabbil ‘alamin.

Wallahu a'lam bish-shawab ...

Semoga kita dapat mengambil pengetahuan yang bermanfaat dan bernilai ibadah ..

Wabillahi Taufik Wal Hidayah, ...

Rabu, 31 Oktober 2012

1 HARI 1 AYAT - SEDEKAH MEMADAMKAN KEMURKAAN ALLAH

SEDEKAH MEMADAMKAN  KEMURKAAN ALLAH ...........

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim

Seorang pemuda mendengar hadits-hadits dan ayat tentang mulianya bersedekah di jalan Allah betapa mulianya berinfaq dengan shadaqatussir (sedekah secara sembunyi-sembunyi) sebagaimana hadits Rasul saw : "Sedekah dengan sembunyi sembunyi memadamkan kemurkaan Allah" (HR Thabrani dg sanad Hasan).

Maka terdetiklah di hati pemuda niat luhur untuk melakukannya dia merasa telah banyak bermaksiat dan dia merasa ibadah-ibadahnya tak cukup untuk memadamkan kemurkaan Allah swt dan dia pun mula mengumpulkan hartanya, setiap kali dia mendapat untung dari pekerjaannya selalulah dia asingkan untuk bersedekah secara sembunyi-sembunyi, siang malam dia terus berusaha dengan gigih mengumpulkan wang hingga setahun lamanya, terkumpullah sejumlah wang dinar emas yang cukup banyak jumlahnya.

Malam itu pemuda menaruh seluruh wangnya itu dalam uncang besar lalu dia berpakaian gelap dan penutup wajah hingga tak seorangpun mengenalinya dia berjalan di tengah malam yang sunyi.

Tiba-tiba dia melihat seorang wanita yang tertidur di tepi jalan maka dia melemparkan uncang wangnya pada tubuh si wanita tersebut. Si wanita itu pun terkejut lalu bangun dan hanya menyaksikan pemuda bercadar itu lari tergesa-gesa.

Pemuda itu membisikkan dalam hatinya : "ah? wanita itu pasti berharap isi uncang itu adalah makanan, namun MASYA ALLAH' SEKELOMPOK WANG DINAR"!!..wah.. dia pasti gembira dan mendoakanku. Puji syukur atas Mu Rabbi, aku berusaha setahun mengumpulkan wang untuk hal ini semoga Engkau menjadikannya sedekah rahsia yang Kau terima.

Keesokan harinya hebohlah kampung itu dengan khabar bahawa seorang wanita pelacur mendapat uncang wang dinar emas ketika sedang menunggu pelanggannya!, mendengar berita itu maka Amir tersentak, ia mengucap, " Subhanallah, pelacur......sedekahku yang kukumpulkan setahun ternyata ditelan pelacur!, ah.. sedekahku tak diterima oleh Allah hanya menjadi santapan wanita pezina dan penyebab orang berzina, naudzubillah!"

Pemuda itu muram dan sedih namun ia tetap bersabar dan dia ingin agar sedekahnya diterima oleh Allah dan tak salah penerima maka dia mengumpulkan lagi harta dengan lebih gigih lagi hingga setahun lamanya setelah harta terkumpul dia membeli sebanyak-banyaknya perhiasan emas dan berlian terkumpullah sekarung perhiasan beragam corak dan jenis. Dia merasa puas memandang jerih payahnya.

Dia pun mengulangi perbuatannya, menggunakan penutup wajah dan membawa uncang perhiasan itu di tengah-tengah malam tiba-tiba dia melihat seorang lelaki setengah baya yang sedang berjalan di tengah malam, wajahnya tampak kusut dan penuh kegundahan maka si pemuda itu pun melemparkan uncang itu pada si lelaki tersebut dan berkata : "terimalah sedekahku..!", lalu dia pun lari tergesa-gesa agar si lelaki itu tidak mengenalinya.

Keesokan harinya kampung itu gempar, semalam ada seorang perompak yang mendapat rezeki uncang perhiasan dari lelaki yang tak dikenali?, Pemuda itu sangat sedih.. dua tahun sudah dia mengumpulkan wang dengan susah payah tapi selalu sahaja  salah penerimanya.

Namun pemuda itu masih juga bersabar dan dia kembali mengumpulkan wang berlanjutan hingga setahun maka dia melakukan seperti tahun yang lalu, menaruh wang dinar emasnya di uncang kulit lalu berjalan di tengah malam dia melihat seorang lelaki yang berjalan tertatih tatih sendirian. Jadi ini pastilah tak salah penerimanya bisik pemuda itu. Dia pun memberikan uncang Dinar Emasnya pada lelaki itu dan lari.

Keesokan harinya kampung itu gempar lagi seorang lelaki yang menjadi orang terkaya di kampung itu mendapat sedekah seuncang emas dinar maka pemuda itu pun jatuh terjelopok bererti memang dia adalah pemuda busuk yang sedekahnya tak akan diterima oleh Allah, 3 tahun ia berjuang namun Allah menghendaki lain.  Pemuda itu pun berdoa: "Rabb......kalau kau menerima sedekahku itu maka tunjukkanlah".

Zaman terus berlalu tanpa terasa puluhan tahun kemudian pemuda itu sudah tua di usia senjanya ia mendengar ada dua orang ulama adik kakak, keduanya menjadi ulama besar dan mempunyai ribuan murid.

Kedua Ulama itu anak yatim, ayah mereka wafat saat mereka masih kecil, lalu kerana jatuh miskin maka ibunya akhirnya melacur untuk menyara anaknya dalam suatu malam ibunya bermunajat pada Allah: "Ya Allah ya Rabbi, kuharamkan rezeki yang haram untuk anak-anakku, malam ini berilah aku rezeki Mu yang halal,"

lalu Ibu itu tertidur di tepi jalan, lalu ada seorang yang tidak dikenali yang melemparkan seuncang wang dinar emas padanya, lelaki itu menutup wajahnya dengan cadar maka sang Ibu gembira, bertaubat dan menyekolahkan anaknya dengan wang itu dan hingga kedua anaknya menjadi Ulama dan mempunyai murid ribuan banyaknya…

Airmata menitis membasahi kedua belah pipi pemuda yang sudah tua itu oh.. sedekahku itu ternyata diterima Allah dan pahalanya dijaga Allah hingga berkesinambungan dengan anak-anak sipelacur yang menjadi ulama dengan wang sedekahnya dan memiliki ribuan murid pula Maha Suci Allah Dia tidak mensia-siakan susah payahku namun apa nasibnya dengan sedekahku yang tahun kedua?

Tidak berapa lama kemudian  pemuda yang sudah tua itu mendengar khabar bahawa seorang Wali Allah baru saja wafat dia dulunya adalah seorang perompak suatu malam ia dilempari seuncang perhiasan oleh lelaki yang tidak dikenali lalu ia bersyukur kepada Allah, beribadah dan beribadah, meninggalkan kehidupan duniawi, berpuasa dan bertahajjud, hingga menjadi orang yang Soleh dan Mulia, dan wafat sebagai dengan mencapai darjat Waliyullah (kekasih Allah) dan banyak pula orang yang bertaubat ditangannya.

Pemuda yang sudah tua itu  semakin cerah wajahnya dan semakin malu kepada Allah, tak lama kemudian sampai pula khabar padanya bahawa telah dibangunkan sebuah rumah amal, yang selalu tak pernah sepi dikunjungi para pengemis, rumah amal itu selalu membahagi-bahagikan hartanya pada para Fuqara, rumah amal itu didirikan oleh seorang tua yang kaya raya di kampung itu dia awalnya sangat kedekut namun suatu malam dia dihadiahi seuncang wang dinar emas oleh lelaki yang tidak dikenali dia pun malu dan bertaubat, lalu menginfakkan seluruh hartanya untuk rumah amal.

Pemuda yang sudah tua itu pun lalu menyungkur sujud kehadirat Allah swt betapa luhurnya Dia Yang Maha Menjaga Amalnya yang tak berhenti hingga berlipat-lipat dan berkesinambungan. Pemuda yang sudah tua itu benar-benar telah mencapai cita-citanya.
Sabda Rasul saw:"Sedekah secara sembunyi-sembunyi memadamkan kemurkaan Allah."
dan dia mendapatkan pahala yang terus mengalir tanpa henti bagai membeli saham dengan keuntungan berjuta kali lipat gandanya, betapa tidaknya?, Apalah ertinya seuncang wang dinar emas dibandingkan pahala sujud orang yang bertaubat?, sedangkan kita mendengar hadits Rasul saw : "Dua raka'at Qabliyah Subuh lebih mulia dari dunia dan segala isinya"

Lalu bagaimana dengan pahala yang berkumpul dari sebab amal sedekahnya yang tak bererti itu?, betapa beruntungnya si pemuda yang sudah tua ini dan betapa mulia darjatnya dan rugilah mereka yang kedekut dengan hartanya, yang merasa bahawa makan dan minumnya lebih berhak didahulukan daripada menjadikannya perantara yang mendekatkannya pada Keluhuran yang Abadi.
Semoga kita semua dikelompokkan sebagai penanam saham untuk meneruskan tegaknya Dakwah Nabi Muhammad saw, amiin.....

Semoga kita dapat mengambil pengetahuan yang bermanfaat dan menambahkan ibadah 

Rabu, 17 Oktober 2012

TERAPI MINDA - KISAH MANGKUK CANTIK, MADU DAN SEHELAI RAMBUT

... KISAH MANGKUK CANTIK, MADU DAN SEHELAI RAMBUT ...

BismillahirRahmaanirRahim ... Baginda Rasulullah SAW, dengan sahabat-sahabatnya Abu Bakar r.a., Umar r.a., Utsman r.a., dan 'Ali r.a., bertamu ke rumah Ali r.a.

Di rumah Ali r.a. isterinya Sayidatina Fathimah r.ha. puteri Rasulullah SAW menghidangkan untuk mereka madu yang diletakkan di dalam sebuah mangkuk yang cantik dan ketika semangkuk madu itu dihidangkan sehelai rambut terikut di dalam mangkuk itu.

Baginda Rasulullah SAW kemudian meminta kesemua sahabatnya untuk membuat suatu perbandingan terhadap ketiga benda tersebut (Mangkuk yang cantik, madu, dan sehelai rambut).

Abu Bakar r.a. berkata, "iman itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang beriman itu lebih manis dari madu, dan mempertahankan iman itu lebih susah dari meniti sehelai rambut".

Umar r.a. berkata, "kerajaan itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, seorang raja itu lebih manis dari madu dan memerintah dengan adil itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut".

Utsman r.a. berkata, "ilmu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang menuntut ilmu itu lebih manis dari madu dan beramal dengan ilmu yang dimiliki itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut".

Ali r.a. berkata, "tamu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, menjamu tamu itu lebih manis dari madu, dan membuat tamu senang sampai kembali pulang ke rumanya adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut".

Fatimah r.ha.berkata, "seorang wanita itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, wanita yang berpurdah itu lebih manis dari madu dan mendapatkan seorang wanita yang tak pernah dilihat orang lain kecuali muhrimnya lebih sulit dari meniti sehelai rambut".

Rasulullah SAW berkata, "seorang yang mendapat taufiq untuk ber'amal adalah lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, beramal dengan amal yang baik itu lebih manis dari madu dan berbuat amal dengan ikhlas adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut".

Malaikat Jibril AS berkata, "menegakkan agama itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, menyerahkan diri; harta; dan waktu untuk usaha agama lebih manis dari madu dan mempertahankan usaha agama sampai akhir hayat lebih sulit dari meniti sehelai rambut".

Allah SWT berfirman, " Syurga-Ku itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik itu, nikmat syurga-Ku itu lebih manis dari madu dan jalan menuju syurga-Ku adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut".

Begitulah kalimat-kalimat indah yang diucapkan, sebagai pelajaran bagi umat.

Wallahua’lam bish Shawwab ....
Barakallahufikum ....

Jumaat, 5 Oktober 2012

1 HARI 1 AYAT - 4 GOLONGAN YANG MENERIMA SEKSAAN BERBEZA DI DALAM LIANG LAHAD

4 Golongan Yang Menerima Siksaan Berbeza Di Dalam Liang Lahad

Terdapat seorang pemuda yang kerjanya menggali kubur dan mencuri kain kafan untuk dijual. Pada suatu hari, pemuda tersebut berjumpa dengan seorang ahli ibadah untuk menyatakan kekesalannya dan keinginan untuk bertaubat kepada Allah s. w. t. Dia berkata, “Sepanjang aku menggali kubur untuk mencuri kain kafan, aku telah melihat 7 perkara ganjil yang menimpa mayat-mayat tersebut. Lantaran aku merasa sangat insaf atas perbuatanku yang sangat keji itu dan ingin sekali bertaubat.”

” Golongan yang pertama, aku lihat mayat yang pada siang harinya menghadap kiblat. Tetapi apabila aku menggali semula kuburnya pada waktu malam, aku lihat wajahnya telahpun membelakangkan kiblat. Mengapa terjadi begitu, wahai tuan guru?” tanya pemuda itu. ” Wahai anak muda, mereka itulah golongan yang telah mensyirikkan Allah s. w. t. sewaktu hidupnya. Lantaran Allah s. w. t. menghinakan mereka dengan memalingkan wajah mereka dari mengadap kiblat, bagi membezakan mereka daripada golongan muslim yang lain,” jawab ahli ibadah tersebut.

Sambung pemuda itu lagi, ” Golongan yang kedua, aku lihat wajah mereka sangat elok semasa mereka dimasukkan ke dalam liang lahad. Tatkala malam hari ketika aku menggali kubur mereka, ku lihat wajah mereka telahpun bertukar menjadi babi. Mengapa begitu halnya, wahai tuan guru?” Jawab ahli ibadah tersebut, ” Wahai anak muda, mereka itulah golongan yang meremehkan dan meninggalkan solat sewaktu hidupnya. Sesungguhnya solat merupakan amalan yang pertama sekali dihisab. Jika sempurna solat, maka sempurnalah amalan-amalan kita yang lain,”

Pemuda itu menyambung lagi, ” Wahai tuan guru, golongan yang ketiga yang aku lihat, pada waktu siang mayatnya kelihatan seperti biasa sahaja. Apabila aku menggali kuburnya pada waktu malam, ku lihat perutnya terlalu gelembung, keluar pula ulat yang terlalu banyak daripada perutnya itu.” ” Mereka itulah golongan yang gemar memakan harta yang haram, wahai anak muda,” balas ahli ibadah itu lagi.

” Golongan keempat, ku lihat mayat yang jasadnya bertukar menjadi batu bulat yang hitam warnanya. Mengapa terjadi begitu, wahai tuan guru?” Jawab ahli ibadah itu, ” Wahai pemuda, itulah golongan manusia yang derhaka kepada kedua ibu bapanya sewaktu hayatnya. Sesungguhnya Allah s. w. t. sama sekali tidak redha kepada manusia yang menderhakai ibu bapanya.”

Jumaat, 10 Ogos 2012

TERAPI MINDA - KISAH SI MISKIN DAN SI KAYA

"Nak, pakcik tahu. Kami ini orang susah, nak. Hidup seperti najis, dibuang dan ditolak-tolak. Kalian tutup hidung melihat kami. Ambillah ini semula. Pakcik juga punya maruah. Kadang-kadang maruah kami lebih tinggi dari kamu orang kaya yang hidup berpura-pura, menipu orang. Harga diri kami masih kuat".

Jalan di situ berlopak-lopak besar, terhinjut-hinjut Toyota Corolla Altis 1.8 ini dilambung graviti. Ery duduk di sebelah sudah berapa kali bangun tidur, dengkurnya makin menjadi. Siaran radio sekejap berbunyi, bercampur-campur. Sekejap radio perak, sekejap kedah mengikut lambungan kereta lagaknya.

Aku terpaksa memperlahankan kereta melalui satu perkampungan nelayan yang kotor, beberapa budak-budak kecil dengan muka yang comot dan hingus kering di muka berlari-lari. Seorang daripadanya tidak berseluar langsung, geli. Ada orang tua berbasikal mengangkat tangan memberi salam. Aku menaikkan cermin kereta, melepaskan rengusan garang.

Ery sudah bangun, mengesat-ngesat mata, menggeliat kasar. Mengeluarkan bunyi seperti kerbau. Perempuan sial, sopannya cuma di depan jantan, tersipu-sipu dan bersimpuh malu. Hipokrit ini cuma tahu bersolek dan berdandan bila mahu keluar, di rumah dia seperti perempuan baru beranak, t-shirt goboh dengan kain pelekat singkat dan rambut kusut masai seperti orang gila, mengeluarkan bau hapak dan masam.

Ada sebuah jeti buruk disitu. Beberapa nelayan baru sampai dari laut disambut peraih-peraih buncit. Memunggah ikan. Ery sudah separuh menggelepar di luar meliar mata mencari Shafik, tunangnya. Aku duduk sahaja di dalam kereta. Aku bencikan pantai hanyir seperti ini. Beberapa gadis bertudung labuh lalu dengan menaiki basikal dan memberi senyuman. Aku menghempas pintu serta merta. Memang benar. Perempuan kolot seperti mereka itu, patut dijerukkan saja di tempat busuk ini.Tolol! Kemudian, datang seorang tua menghampiri tingkap belakang. Aku sedikit marah, mengetap bibir.

"Nak apa?!"

Dia terketar terkejut, sedikit berundur.

"Assalammualaikum nak, pakcik ambil upah cuci kereta.."

Dia bercakap dengan pandangan yang tumpah ke kakinya, tertib dan seperti takut. Di tangannya ada satu baldi buruk air sabun dengan tuala koyak di bahu. Baju kemeja kusam koyak di poket, cuma dibutang dua menampakkan dadanya yang leper ditolak tulang selangka. Seluar hijau pudar senteng.

Tidak berkasut dengan kuku hitam dan kaki yang reput. Menjijikkan! "Basuh sajalah, tapi, awas!! Kalau calar kereta aku, tahulah macamana aku nak ajar kau!!" Berkata sambil meliarkan mata pada Ery yang tengah tersengih-sengih meramas-ramas tangan dengan tunangnya itu. Duduk pula bersimpuh, membelai-belai rambut. Boleh pula kaki yang asyik duduk terkangkang di rumah itu ditutup rapat.

Orang tua itu tertunduk-tunduk mengucap terima kasih. Ah, miskin seperti ini tunduk-tunduk meminta simpati, tiada maruah. Terus saja dia menggosok satu demi satu tayar kereta. Memberus sambil terbatuk-batuk, meludahkan kahak hijau. Pengotor, sial! Aku mengalihkan mata ke pantai.

Peraih berdekah ketawa menepuk-nepuk belakang nelayan kurus itu. Menyerahkan beberapa ringgit. Nelayan itu tersenyum pahit. Menyelitkannya di celah kopiah. Itulah, siapa suruh kecil-kecil tidak mahu belajar pandai-pandai, masuk universiti dan kerja besar. Tidaklah hidup susah seperti itu. Bodoh!!

"Sudah nak!!"

Pakcik itu datang setelah 20 minit. Aku sudah malas hendak memandangnya, dan kuhulurkan sahaja RM 5. Aku rasa itu sudah cukup lumayan untuk fakir seperti dia. Cepat-cepatlah dia pergi. Tapi, sebaliknya dia memegang lama duit itu. Tunduk dan menangis tersedu-sedu. Menambahkan kerut dan mengelap mata dengan hujung kemejanya.

"Kenapa ni? Gila?!"

"Nak, seumur hidup pakcik hidup susah ini, pakcik kerja memetik kelapa, mencuci tandas di restoran, kemudian mencuci kereta, belum pernah pakcik terima upah sebanyak ini. Paling banyak pun hanya seringgit." Dia bersungguh-sungguh melihat ke dalam mata aku.

Timbul pula sedikit simpati, sedikit sayu. Rasa yang tidak pernah bertakung dalam hati keras aku selama 25 tahun ini. Dia melipat kecil wang itu diikat simpul di dalam sapu tangan biru muda. Pergi dengan terhinggut menangis dengan baldi buruk ke arah sekumpulan nelayan.

Aku memandangnya dengan pandangan kosong. Ini warna kemiskinan, aku tidak pernah lihat. Aku membesar dalam hutan batu, di kota lumpur. Keras diselaput wang kemewahan, kemudian keluar dengan segulung ijazah. Bekerja seperti orang gila untuk duit. Biarlah, kalau aku mahu bantu, ramai lagi di luar sana. Lupakan saja..

Ery memanggil aku dari sebuah kedai makan di situ. Hampir 10 minit aku melayan meluat-melihat Ery yang tersipu-sipu menggagau mee dengan sudu dan garfu. Kemudian, kelibat orang tua itu melintasi kami, menjinjing dua beg besar hitam berisi barang. Hairan, takkanlah dengan wang RM 5 dia boleh membeli barang sebanyak itu. Mustahil. Atau dia memang ada duit tapi, berlagak seperti fakir. Mungkin..

Dengan rasa ragu, aku menghampirinya. Dia memberi senyum lembut dan aku dengan rasa curiga bertanya terus.

" Eh, pakcik. Tadi saya bagi lima ringgit, takkan dapat beli barang sebanyak ini?".

Bunyinya seperti meninggi. Pakcik itu seperti terkejut.

Dia diam dan tunduk seketika. Pahit menelan air liur. Meletakkan dua beg plastik di atas tanah, membukanya satu satu, perlahan-lahan dan terketar.

Aku terkedu. Terkejut dan malu. Pakcik itu mengeluarkan sapu tangan tadi dan membuka simpulannya. Wang aku tadi, masih terlipat kemas.

"Nak, pakcik tahu. Kami ini orang susah, nak. Hidup seperti najis, dibuang dan ditolak-tolak. Kalian pekup hidung melihat kami. Ambillah ini semula. Pakcik juga punya maruah. Kadang-kadang maruah kami lebih tinggi dari kamu orang kaya yang hidup berpura-pura, menipu orang. Harga diri kami masih kuat. Bila anak menyoal pakcik seperti tadi, anak telah memijak harga diri pakcik. Anak seperti menghukum pakcik sebagai orang tua sial yang berpura-pura susah. Ambillah semula, nak."

Pakcik itu meletakkannya di atas tangan aku, dan aku menolak, berkali-kali. Aku sudah menangis, meminta maaf, berkali-kali. Tidak mahu menyentuh langsung wang itu, hingga jatuh di hujung kaki.

"Lihat, itulah tempat duit. Di tapak kaki. Duit itu perlu, tapi jangan sampai ia lebih tinggi dari harga diri. Jangan sampai duit menjadikan kita angkuh dan bongkak. Pakcik ke sana tadi, tempat nelayan memunggah ikan. Pakcik kutip ikan-ikan kembung pecah perut ini yang sudah dibuang ke tepi. Dengan bangkai busuk ini pakcik sambung hidup anak-anak pakcik, jangan sampai kelaparan, jangan mati."

Mendatar sahaja suara orang tua itu berkisar-kisar dengan pukulan ombak. Dia terbatuk-batuk berjalan, meninggalkan aku dengan wang lima ringgit di hujung kaki, dua plastik berisi ikan busuk yang sudah mula dihurung lalat.

Aku terduduk menangis semahu-mahunya. Aku mempunyai wang yang boleh membeli segala kemewahan dunia, cuma aku belum mampu membeli sesuatu yang ada dalam diri orang tua itu.

Moral : Kekayaan itu hanya di dunia dan apabila kita mati nanti, hilanglah kekayaan itu dan yang kita bawa adalah amalan. Ingatlah Allah boleh memberi pada bila-bila masa kepada kita dan Allah juga boleh mengambil nikmat daripada kita bila-bila masa, di mana saja dan apa cara sekalipun. Kekayaan, kemiskinan, kebaikan, keburukan dan setiap musibah yang menimpa manusia merupakan ujian dari Allah swt. yang diberikan kepada hambanya. Itu bukan ukuran kemuliaan atau kehinaan seseorang. Janganlah bangga kerana kekayaan dan janganlah putus asa kerana kemiskinan.


Dan (ingatlah) tatakala Tuhan kamu memberitahu: "Demi sesungguhnya! Jika kamu bersyukur nescaya Aku akan tambahi nikmatKu kepada kamu, dan demi sesungguhnya, jika kamu kufur ingkar sesungguhnya azabKu amatlah keras".
(Surah Ibrahim, Ayat 7)

Rabu, 8 Ogos 2012

1 Hari 1 Ayat - KEADILAN ALLAH TAALA

Pada zaman Nabi Musa a.s telah berlaku satu peristiwa yang membabitkan seorang pemuda, seorang lelaki tua dan seorang kanak-kanak. Kisah mereka bertiga ini ada kaitannya dengan seuncang emas yang menjadi rebutan. Bagaimanapun kesudahan kisah ini menunjukkan keadilan Allah Taala kepada makhluk ciptaanNya terutamanya keapda manusia itu sendiri.

Seorang pemuda menerima seuncang emas daripada bapanya yang telah dibunuh. Beliau berhasrat memberikan emas itu kepada ibunya di kampung. Maka beliau ingin kembali ke kampungnya untuk menunaikan hasrat murni itu.

Pemuda itu memulakan perjalanannya pada sebelah pagi memandangkan kampungnya agak jauh di pedalaman. Beliau menaiki seekor kuda sebagai kenderaan. Di pertengahan jalan beliau berhenti seketika untuk berehat di bawah sepohon pokok. Akibat terlalu letih beliau akhirnya tertidur di bawah pokok berkenaan. Uncang emas yang di bawanya diletakkan di sisinya.

Akibat kepenatan berjalan jauh pemuda itu tertidur sehingga ke petang. Apabila terjaga dilihatnya suasana sekeliling sudah mulai gelap. Lantas beliau bangun dan terus mendapatkan kudanya untuk meneruskan perjalanan. Dalam keadaan tergesa-gesa itu beliau terlupa mengambil uncang yang dibawanya tadi. Uncang emas itu ditinggalkan di bawah pohon itu tanpa disedarinya.

Setelah beberapa lama pemuda itu beredar datang seorang kanak-kanak melalui di bawah pohon tempat pemuda tadi tidur. Kanak-kanak tersebut terjumpa uncang emas yang ditinggalkan pemuda tadi. Lalu kanak-kanak tersebut mengambil uncang berkenaan dan membawa pergi bersama-samanya.

Setelah jauh berjalan tiba-tiba pemuda tadi menyedari uncang emasnya tertinggal di bawah pohon pokok tempat dia berehat. Lalu beliau berpatah balik mengambilnya. Apabila tiba di bawah pohon tersebut beliau dapati seorang lelaki tua sedang berehat di situ. Pemuda itu terus mendapatkan lelaki tua itu dan bertanyakan tentang uncang emasnya. Lelaki tua itu menafikan dia mengambil uncang emas itu. Pemuda berkenaan tetap menuduh lelaki tua itu mengambilnya kerana hanya dia yang ada di tempat berkenaan.

Akibat terlalu marah akhirnya pemuda itu telah membunuh lelaki tua berkenaan dengan anggapan lelaki tua itu yang mengambil uncang emasnya tetapi sengaja menafikan. Setelah dibunuh lelaki tua itu diperiksa  malangnya tidak ditemui apa pun. Pemuda itu kemudiannya meneruskan perjalanannya.

Peristiwa di atas telah dibawa ke pengetahuan Nabi Musa a.s. Akhirnya Nabi Musa a.s  menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi kepada ketiga-tiga orang yang terbabit dalam peristiwa tersebut.
 Menurut Nabi Musa a.s kisah ketiga-tiga orang berkenaan mempunyai kaitan antara satu sama lain. Ayah pemuda dan lelaki tua itu adalah sahabat baik. Tetapi kedua-duanya terlibat dalam kegiatan tidak bermoral iaitu mencuri. Antara barang yang mereka curi ialah seuncang emas yang dimiliki oleh kanak-kanak tersebut oleh sebab tamak kan harta yang dicuri lelaki tua itu telah membunuh ayah pemuda tadi dengan hasrat menagmbil emas tersebut.

Namun lelaki tua itu tidak dapat mengambil emas itu kerana emas tersebut telah diserahkan kepada pemuda itu oleh ayahnya. Dosa kesalahan mencuri dan membunuh oleh lelaki tua itu telah dibalas apabila beliau sendiri dibunuh. Lelaki tua yang dibunuh pemuda itu ialah orang yang membunuh ayahnya. Beliau telah berjaya membunuh orang yang membunuh ayahnya. Kanak-kanak yang mengambil emas semasa di bawah pohon itu adalah pemilik sebenar emas berkenaan. Dengan izin Allah emas yang dicuri daripadanya telah dikembalikan semula. Semua ini berlaku dengan keizinan dan perancangan Allah Taala yang Maha Adil. Setiap pihak mendapat hal masing-masing mengikut keadilan Allah Taala.

Menerusi kisah ini Nabi Musa a.s menegaskan tentang keadilan Allah Taala di atas segala kejadian yang berlaku kepada makhluknya. Setiap kejadian yang berlaku mempunyai hikmah yang tersendiri yang tidak dapat ditanggapi oleh akal manusia. Namun hikmah dan kebaikannya akan kembali kepada manusia juga. Oleh sebab itu kita perlu menerima setiap perkara yang terjadi ke atas kita dengan perasaan penuh redha serta bersabar. Semua itu adalah perancangan dan ketentuan Allah ke atas diri kita. Kita boleh merancang namun perancangan Allah Taala lebih bijaksana dan hebat. Mungkin setiap yang terjadi itu mempunyai hikmah tetrtentu dalam kehidupan kita yang kita sendiri tidak mengetahuinya. Yakinlah Allah Taala Maha Mengetahui lagi Maha Adil kepada setiap makhluk ciptaanNya.

TERAPI MINDA - KISAH-KISAH TELADAN


KISAH 1 - MEMBUAT SYAITAN MARAH

Allah swt menyukai jika kita membuat perkara-perkara yang syaitan membenci atau tidak suka. Pernah seorang lelaki yang soleh mempunyai seekor kambing dan dibela oleh hamba abdinya. Setiap hari si hamba mengembala kambing itu ke padang ragut dan di masukkan ke dalam kandangnya apabila hari menjelang malam.

Pada suatu hari lelaki soleh itu ternampak kambingnya itu hilang sebelah kaki. Akibatnya kambing itu berjalan tempang dan bertatih-tatih. Dia berasa sungguh kasihan namun juga hairan. Bagaimana kambingnya boleh menjadi begitu? Dia pun bertanya kepada hambanya.

Saya yang menyebabkan kakinya menjadi begitu, tuan." Subhanalallah...mengapa?" tanya lelaki soleh itu. " Sengaja saya berbuat begitu. Saya ingin membuat hatimu marah." Si hamba itu menjawab dengan selamba. " Baiklah sekarang biar saya pula membuat syaitan yang menyuruhmu berbuat kejahatan menjadi sakit hati," kata lelaki soleh itu. Si hamba hairan dengan tindakan tuannya. Hendak membuat syaitan marah?

" Sekarang saya memerdekakan kamu semata-mata kerana Allah swt. Pergilah." Si hamba terkejut namun gembira dengan tindakan orang yang soleh itu. Ternyata tuannya ini memiliki kesolehan yang tinggi. Orang soleh ini bukan sahaja dapat mengawal kemarahan malah membuat kebaikan pula kepada orang yang sepatutnya di marahi.

KISAH 2 - KEJUJURAN SYEIKH ABDUL QADIR JAELANI

Syeikh Abdul Qadir semasa berusia 18 tahun meminta izin ibunya merantau ke Baghdad untuk menuntut ilmu agama. Ibunya tidak menghalang cita-cita murni Abdul Kadir meskipun keberatan melepaskan anaknya berjalan sendirian beratus-ratus batu. Sebelum pergi ibunya berpesan supaya jangan berkata bohong dalam apa jua keadaan. Ibunya membekalkan wang 40 dirham dan dijahit di dalam pakaian Abdul Kadir. Selepas itu ibunya melepaskan Abdul kadir pergi bersama-sama satu rombongan yang kebetulan hendak menuju ke Baghdad.
Dalam perjalanan, mereka telah diserang oleh 60 orang penyamun. Habis harta kafilah dirampas tetapi penyamun tidak mengusik Abdul Kadir kerana menyangka dia tidak mempunyai apa-apa. Salah seorang perompak bertanya Abdul Kadir apa yang dia ada. Abdul Kadir menerangkan dia ada wang 40 dirham di dalam pakaiannya. Penyamun itu hairan dan melaporkan kepada ketuanya. Pakaian Abdul Kadir dipotong dan didapati ada wang sebagaimana yang diberitahu.
Ketua penyamun bertanya kenapa Abdul Kadir berkata benar walaupun diketahui wangnya akan dirampas? Abdul Kadir menerangkan yang dia telah berjanji kepada ibunya supaya tidak bercakap bohong walau apa pun yang berlaku. Apabila mendengar dia bercakap begitu, ketua penyamun menangis dan menginsafi kesalahannya. Sedangkan Abdul Kadir yang kecil tidak mengingkari kata-kata ibunya betapa dia yang telah melanggar perintah Allah sepanjang hidupnya. Ketua penyamun bersumpah tidak akan merompak lagi. Dia bertaubat di hadapan Abdul Kadir diikuti oleh pengikut.


KISAH 3 - TAUBAT SEORANG PEMILIK ROTI

Diriwayatkan dari Abu Burdah;
Ketika menjelang wafat Abu Musa sempat berkata kepada putranya, “Wahai anakku, ingatlah kamu akan cerita tentang seorang pemilik roti.

Dahulu di sebuah pertapaan ada seorang laki-laki tekun beribadah selama 70 tahun. Dia tidak pernah meninggalkan pertapaannya, kecuali pada hari-hari tertentu. Kemudian suatu ketika dia digoda oleh seorang wanita hingga dia pun terjatuh dalam pujuk rayunya, bahkan sempat tinggal bersama selama 7 hari sebagaimana layaknya suami isteri. Setelah dia sedar dan taubat, maka ditinggalkannya pertapaan tersebut dan setiap kali melangkahkan kakinya sentiasa diikutinya dengan solat dan bersujud. Sampailah dia di sebuah kedai yang di dalamnya terdapat 12 orang miskin, sang pertapa itu pun bermaksud bermalam di sana. Kerana tidak kuat menahan rasa letihnya dari sebuah perjalanan yang cukup panjang, akhirnya dia tertidur di antara beberapa lelaki miskin dalam kedai tersebut.

Sementara itu, di sekitar kedai tersebut hiduplah seorang pendeta yang setiap malam selalu mengirimkan beberapa potong roti kepada penghuni kedai dengan masing-masing orang mendapatkan sepotong. Suatu ketika datang pula pemilik roti lainnya yang juga membahagi-bahagikan roti kepada setiap penghuni kedai sepotong-sepotong dan pertapa yang bertaubat yang melintas di depannya juga diberinya, karena dikira sebagai orang miskin sebagaimana penghuni lain dari kedai itu.

Salah seorang di antara orang-orang miskin ada yang tidak kebagian roti dari pemilik roti tersebut, dan berkatalah dia kepadanya, “Mengapa anda tidak memberikan roti ini kepadaku?”
“Anda lihat sendiri, apakah aku menyimpan roti untuk anda? Cuba tanyakan kepada mereka, adakah salah seorang dari mereka yang kuberi roti sampai dua potong?” tanya pemilik roti itu.
“Tidak,” jawab para penghuni kedai serempak.
“Demi Allah, pada malam ini aku tidak akan memberikan sedikit pun roti kepadamu!” jawab pemilik roti itu.

Kemudian lelaki yang bertaubat itu bermaksud mengambil roti yang telah diberikan kepadanya tadi untuk diberikan kepada orang yang tidak kebahagian roti tersebut. Lalu keesokan harinya orang yang bertaubat itu meninggal dunia, dan ditimbanglah amal ibadah selama 70 tahun dengan kemaksiatan (dosa) yang dilakukannya selama 7 malam. Akan tetapi, ternyata amal ibadat selama 70 tahun itu terkalahkan dengan dosa akibat perbuatannya selama 7 malam, dan ketika dosa perbuatannya selama 7 malam itu ditimbang dengan sepotong roti, amal sepotong roti tersebut dapat mengalahkan perbuatan dosanya selama 7 malam itu.”

Abu Musa lalu berkata, “Wahai anakku, ingatlah kamu akan pemilik roti itu!”


Selasa, 7 Ogos 2012

1 Hari 1 Ayat - SYAITAN KALAH DENGAN ORANG YANG IKHLAS

Iblis menjawab, demi kekuasaan Engkau, aku akan sesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka." (Shaad: 82-83)
Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, Kecuali hamba-hambaMu yang ikhlas". (Al Hijr: 39–40)

Di dalam Mikhtashar Minhaj al Qosidhin disebut satu riwayat sebuah kisah, ada satu pokok yang sering disembah oleh penduduk kampung. Maka ada seorang lelaki mengatakan,”Aku akan tebang pokok itu yang telah menyebabkan ramai manusia menjadi syirik”. Lelaki itu pun mengambil kapak dan pergi ke pokok tersebut untuk menebangnya.
Syaitan yang menyerupai manusia menunggu di pokok itu dan berkata,”Apa yang kau ingin lakukan?" Lelaki itu menjawab,’Aku ingin tebang pokok ini. Ramai telah syirik kerana menyembah pokok ini". Syaitan itu berkata, "Aku akan menghalang kamu. Kamu perlu mengalahkan aku untuk menebang pokok ini". Lalu terjadilah pergelutan dan lelaki itu berjaya mencekik syaitan yang menyerupai manusia itu. Syaitan berkata, "Aku mengaku kalah dan kau boleh tebang pokok ini. Tetapi dengar dulu cadangan aku. Kau tidak akan dapat apa-apa faedah pun jika kau tebang pokok ini. Orang kampung akan cari pokok lain untuk mereka sembah. Jika kau setuju untuk tidak tebang pokok ini, aku akan berikan dua dinar di bawah bantal kau pada setiap pagi." Lelaki itu bersetuju dengan tawaran tersebut.
Pada keesokan harinya dia mendapati ada dua dinar dari bawah bantalnya. Kemudian pada esok harinya lagi dia tengok tidak ada dua dinar seperti yang dijanjikan. Lelaki itu merasa marah lalu mengambil kapak dan pergi untuk tebang pokok itu. Setiba di pokok itu, syaitan telah sedia menunggu. ”Apa yang kau ingin lakukan ?". Lelaki itu menjawab,’Aku nak tebang pokok ini. Hari ini tidak ada 2 dinar seperti yang kau janjikan. Kau telah tipu aku". Syaitan itu berkata, "Aku akan menghalang kamu. Kamu perlu mengalahkan aku untuk tebang pokok ini ".
Lalu terjadilah pergelutan dan kali ini lelaki itu kalah, syaitan telah berjaya mencekik lelaki itu" Syaitan berkata,”Tahukah kamu siapa aku?" Syaitan memberitahu dia sebenarnya adalah syaitan". Lelaki itu bertanya, mengapa hari itu aku dapat kalahkan kau tetapi kali ini aku tidak dapat kalahkan kau?" Syaitan menjawab, "Kali pertama kau datang, niat kau ikhlas semata-mata kerana Allah sehingga aku tidak berdaya mengalahkan kau. Tetapi kali ini kau datang kerana kau marah tidak dapat dua dinar dan apabila kau tidak ikhlas kerana Allah maka aku berjaya mengalahkan kau".

PENGERTIAN IKHLAS :

Rasulullah SAW. bersabda, "Sesungguhnya Allah tidak akan menerima amal kecuali amal yang dilaksanakan dengan ikhlas dan dilakukan semata-mata untuk mengharap redha Allah. (HR Abu Daud dan An-Nasa'i)

1. Ikhlas, Lillahi taala, hanya untuk ALLAH.
2. Ikhlas ialah menqasadkan kata-kata, amal usaha, jihad dan pengorbanan kita itu kerana Allah dan menharapkan keredhaannya tanpa mengharap faedah, nama, gelaran, pangkat, sanjungan, kedudukan duniawi.
3. Ikhlas ialah apabila seseorang itu melaksanakan tuntutan agama dan menjauhi tegahan agama semata-mata kerana mengharapkan keredhaan Allah dan takut kepada kemurkaan-Nya.
4. Ikhlas adalah niat semata-mata kerana Allah, kerana menjunjung perintahNya, kerana mengharap redhaNya, kerana mengikuti arahanNya, kerana mentaatiNya dan kerana patuh padaNya. KeranaNya yang satu. Tujuannya hanya satu dan didorong oleh yang satu iaitu Allah. Mengabdikan diri kerana Allah dan tidak dicampur atau bercampur selain Allah. Itulah ikhlas, dorongannya hanya satu.
5. Ikhlas sukar untuk dinilai. Ini adalah kerana ikhlas adalah niat atau perasaan atau tujuan di dalam hati. Niat di hati adalah rahsia Allah yang tidak diketahui oleh sesiapa pun. Tetapi ALLAH maha mengetahui niat, hasrat dan tujuan sebenar kita.
6. Tetapi walaupun ia rahsia, namun ulama ada mengenal pasti tanda-tanda atau panduan untuk kita mengukur hati kita dan berusaha agar benar-benar ikhlas.
7. Caranya ialah apabila orang puji atau keji pada kita, kita rasa sama sahaja.
8. Pujian tidak membanggakan dan kejian tidak mengecewakan kita. Itulah antara tanda ikhlas.
9. Bagi orang yang beramal dan melakukan kebaikan, tidak mengharapkan pujian dan tidak berkesan segala kejian itulah ikhlas.
10. Bagi orang yang ikhlas, mereka tidak mengharapkan sesuatu melainkan keredhaan Allah.
Pernah suatu ketika di dalam peperangan, Sayidina Ali k.w.j diludahi mukanya oleh seorang musuh, terus dilepaskan peluang untuk membunuh musuh tersebut. Bila ditanya kenapa dia melepaskan musuh tersebut sedangkan musuh itu telah meludah mukanya. Maka dijawab oleh Sayidina Ali, “Aku takut kalau-kalau pukulanku sesudah ludahnya itu adalah kerana aku marah dan bukan kerana Allah.” Demikian contoh orang yang ikhlas yang sanggup mengenepikan kepentingan diri dalam usaha mencari keredhaan Allah.
Inna solaa ti wa nu suki wamah yaa ya wa mamaa ti lillahi rob bil 'a lamin
Firman Allah, "Katakanlah: Sesungguhnya solatku dan ibadatku dan hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan yang memelihara dan mentadbirkan semesta alam. (Al-An'am: 162)

Khamis, 2 Ogos 2012

1 Hari 1 Ayat - LUASNYA RAHMAT ALLAH

Apa yang kita nikmati dalam hidup ini, nikmat kesihatan, dapat bekerja dan menghasilkan nafkah untuk dinikmati oleh kita dan keluarga, serta berbagai macam kenikmatan lain bukanlah semata-mata karena diri kita melainkan kerana curahan rahmat yang Allah SWT berikan kepada hambaNya di muka bumi ini. Oleh kerananya sudah selayaknya manusia selalu menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi laranganNya, taat dalam beribadah. Kerana itulah cara untuk selalu mendapatkan curahan rahmat dari Allah SWT.

Rasulullah Saw pernah bersabda dari Abu Hurairah yang berbunyi: “ Rahmat Allah terdapat seratus bahagian, maka ditahan padaNya yang sembilan puluh sembilan dan diturunkan di bumi satu bahagian, maka dengan satu bahagian itu masing-masing makhluk berkasih sayang sehingga kuda mengangkat kakinya kerana khawatir menginjak anaknya.” (HR. MUSLIM)

Rahmat yang Allah SWT sebarkan di muka bumi ini hanya berjumlah satu, bayangkan itu pun sudah lebih dari cukup untuk seluruh makhluk yang ada di bumi, tidak akan habis. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungghnya Allah mempunyai seratus rahmat, diturunkan ke bumi hanya satu rahmat untuk penduduk dunia, maka mencukupi hingga habis ajal mereka dan Allah akan mencabut rahmat itu yang satu pada hari kiamat untuk menggenapkan pada yang sembilan puluh sembilan untuk diberikannya kepada para wali dan ahli taat kepadaNya.” (HR. MUSLIM).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tatkala Allah menciptakan seluruh makhluk, Allah tuliskan di dalam kitab-Nya, yang kitab itu berada di sisiNya di atas Arsy, yang isinya adalah: Sesungguhnya rahmatKu mengalahkan kemurkaanKu.” (HR. BUKHARI [3194] dan MUSLIM [2751])

Dari Umar bin Al-Khattab radhiyallahu’anhu, beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kedatangan rombongan tawanan perang. Di tengah-tengah rombongan itu ada seorang ibu yang sedang mencari-cari bayinya. Tatkala dia berhasil menemukan bayinya di antara tawanan itu maka dia pun memeluknya erat-erat ke tubuhnya dan menyusuinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada kami, “Apakah menurut kalian ibu ini akan boleh melemparkan anaknya ke dalam korban api?”. Kami menjawab, “Tidak mungkin, demi Allah. Sementara dia sanggup untuk mencegah bayinya terlempar ke dalamnya.”Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh Allah lebih sayang kepada hamba-hambaNya daripada ibu ini kepada anaknya.” (HR. BUKHARI [5999] dan MUSLIM [2754])

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kalau seandainya seorang mukmin mengetahui segala bentuk hukuman yang ada di sisi Allah niscaya tidak akan ada seorang pun yang masih berhasrat untuk mendapatkan syurgaNya. Dan kalau seandainya seorang kafir mengetahui segala bentuk rahmat yang ada di sisi Allah niscaya tidak akan ada seorang pun yang berputus asa untuk meraih syurgaNya.” (HR. BUKHARI [6469] dan MUSLIM [2755])

Ada sebuah riwayat bahawa ada seseorang yang telah membunuh sebanyak sembilan puluh sembilan orang. Lalu ia mendatangi seorang pendeta dan menceritakan bahawa ia telah membunuh orang sebanyak sembilan puluh sembilan dan meminta petunjuk bagaimana cara agar ia dapat bertaubat. Namun jawapan dari pendeta ini tidak memuaskannya. Pendeta itu menjawab bahawa tidak ada pintu taubat bagi dirinya karena telah banyak membunuh orang yang tidak berdosa. Mendengar jawapan pendeta itu, lantas ia berdiri dan membunuh pendeta tersebut. Genaplah seratus orang yang telah dibunuh.

Kemudian ia mendatangi salah seorang ulama, ia menceritakan bahawa telah membunuh seratus orang, apakah pintu taubat masih terbuka untuknya? Lantas ulama ini memberikan petunjuk agar dirinya pergi ke suatu desa yang bernama Bushro, kerana penduduk di desa tersebut selalu melakukan amal shalih. Ulama ini mengatakan pergilah ke sana dan ikutilah amal shalih yang dilakukan penduduk di desa itu, jangan ragu taubatmu akan diterima. Dengan modal semangat untuk bertaubat, ia pergi ke desa yang disarankan oleh ulama tersebut. Akan tetapi, sebelum sampai ke desa tersebut, di tengah jalan ajal menjemputnya. Lalu datang dua malaikat, yang satu malaikat rahmat dan yang satu malaikat siksa. Kedua malaikat ini berselisih pendapat tentang kedudukan orang tersebut. Malaikat rahmat berkata, “dia datang dengan taubat, datang dengan hatinya kepada Allah. ‘Malaikat siksa berkata, ‘dia belum melakukan kebaikan apapun.’ Lalu malaikat yang berwujud manusia datang kepada mereka dan menjadikannya hakim di antara mereka. Dia berkata, ukurlah antara kedua desa itu kemana dia lebih dekat maka ia untuknya.’ Lalu mereka mengukurnya dan mendapatkan bahawa orang itu lebih dekat kepada desa yang dituju. Maka malaikat rahmat mengambilnya.

Sungguh luasnya rahmat Allah SWT yang dipersiapkan untuk makhluk bumi khususnya kepada manusia. Tinggal apakah kita mensyukuri luasnya rahmat Allah SWT itu atau tidak. Allah SWT berfirman: “Katakanlah, ‘’Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri  janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya DiaLah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. AZ-ZUMAR: 53).

Allah SWT mengampuni dosa-dosa setiap hambaNya yang dengan keinginan yang kuat, niat yang ikhlas, dan bersungguh-sungguh untuk melakukan taubat selama bukan mempersekutukan Allah SWT dengan yang lain.

Ada sebuah riwayat pula tentang seorang laki-laki yang giat beribadah dengan khusyuk. Hal itu dia lakukan sampai ajal menjemput. Kemudian lelaki itu menuntut kepada Allah SWT balasan kekhusyukan ibadahnya selama di dunia. Tetapi, ternyata balasannya adalah neraka. Sang ahli ibadah yang khusyuk ini kehairanan, kenapa balasannya neraka lalu bagaimana dengan ibadah yang ia lakukan dengan khusyuk?

Ternyata laki-laki ini selama hidup di dunia selalu membuat orang putus asa terhadap rahmat Allah SWT yang sangat luas itu. Di dunia engkau selalu membuat orang berputus asa terhadap kasih sayangKu, maka hari ini aku juga membuat engkau putus asa terhadap kasih sayangKu, jawab Allah.

Apa yang dilakukan oleh lelaki itu berlawanan dengan apa yang telah Allah SWT nyatakan dalam firmanNya di atas, hambaNya diharapkan untuk tidak berputus asa dari rahmatNya. Tetapi mengapa justeru ada hambaNya yang berani membuat hamba yang lain berputus asa dari rahmatNya. Seharusnya diungkapkan rahmat Allah SWT yang luas bukan mempersempitkan bahkan seakan-akan meniadakan rahmat Allah SWT yang luas itu.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dahulu ada seorang lelaki yang belum pernah melakukan satu kebaikan pun, dia berpesan kepada anak-anaknya, ‘Kalau dirinya telah meninggal maka bakarlah jenazahnya, kemudian tebarkanlah setengah abunya di daratan dan setengahnya lagi di lautan. Demi Allah, seandainya Allah mampu membangkitkannya niscaya Allah akan menyiksanya dengan siksaan yang belum pernah diberikan kepada siapa pun di antara umat manusia ini.’ Tatkala lelaki itu meninggal anak-anaknya melaksanakan apa yang dia pesankan kepada mereka. Kemudian, Allah perintahkan daratan untuk mengumpulkan abunya yang tersebar di sana, dan Allah perintahkan lautan untuk mengumpulkan abunya yang tersebar di sana, lantas Allah bertanya kepadanya, ‘Mengapa kamu lakukan hal ini?’. Dia menjawab, ‘Karena takut kepadaMu ya Rabb. Sedangkan Engkau Maha mengetahui.’ Maka Allah pun mengampuninya.” (HR. BUKHARI [3481] dan MUSLIM [2756])

Dari AbuMusa radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla membentangkan tanganNya di malam hari untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa di siang hari, dan Allah bentangkan tanganNya di siang hari untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa di malam hari, sampai tiba saatnya matahari terbit dari arah tenggelamnya.” (HR. MUSLIM [2759])

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah itu cemburu, dan seorang mukmin pun cemburu. Allah akan merasa cemburu ketika seorang mukmin melakukan perkara yang diharamkan kepadanya.” (HR. BUKHARI [5222] dan MUSLIM [2761])

Saudaraku… kalau rahmat Allah sedemikian luas, maka janganlah kita berputus asa dari menggapainya. Namun, hal itu bukan bererti kita boleh merasa aman dari siksaanNya. Kerana tidak ada yang merasa aman dari siksaan Allah kecuali orang-orang yang merugikan.


Selasa, 31 Julai 2012

TERAPI MINDA - TAUBAT SETELAH 40 TAHUN BERGELUMANG DOSA

Pada zaman Nabi Musa a.s pernah berlaku musim kemarau yang panjang kepada bani Israel. Lantaran itu mereka berhasrat untuk berkumpul dan menemui Nabi Musa a.s dan Nabi Harun. Mereka merayu kepada ketua mereka dengan berkata: " Wahai Nabi Allah yang merupakan kalamNya tolonglah mohon kepada tuhanmu agar Dia berkenan menurunkan hujan untuk kami." Kemudian Nabi Musa a.s bersama-sama kaumnya berangkat menuju ke kawasan lapang. Menurut suatu pendapat seperti yang dinyatakan oleh Ibn Qudamah dalam al-Tawwabin, bilangan mereka pada waktu itu lebih kurang 70 ribu orang.

Setelah mereka sampai di tempat yang dituju maka Nabi Musa a.s mula berdoa agar diturunkan hujan (al-istisqa). Antara isi doa tersebut adalah: " Tuhanku siramlah kami dengan air hujanMu, taburkanlah kepada kami rahmatMu dan kasihanilah kami terutama bagi anak-anak kecil yang masih menyusu, haiwan ternak yang memerlukan rumput dan orang tua yang sudah bongkok. Sebagaimana yang kami saksikan pada saat ini langit sangat cerah dan cuaca semakin panas." Allah swt telah menurunkan firmanNya yang bermaksud " Aku tidak merendahkan kedudukanmu di sisiKu kamu mempunyai kedudukan yang tinggi.Cuma dalam kalangan umatmu ini ada seorang yang melakukan perbuatan maksiat selama 40 tahun. Selagi dia masih berada dalam kumpulan umatmu ini maka dia menjadi penyebab terhalang turunnya hujan untuk kamu semua."

Nabi Musa a.s kembali berkata:" Wahai Tuhanku, aku adalah hambaMu yang lemah, suaraku juga lemah apakah mungkin suaraku ini akan dapat didengarinya dalam lingkungan jumlah manusia yang melebihi 70 ribu orang ini?" Allah swt berfirman yang bermaksud: " Wahai Musa kamulah yang memanggil dan Akulah yang akan menyampaikannya kepada mereka!" Mentaati dengan apa yang diperintahkan oleh Allah maka Nabi Musa as segera berdiri dan berseru kepada kaumnya: " Wahai seorang hamba yang derhaka kepada Tuhannya sudah lama engkau melakukan dosa kepada Allah swt. Keluarlah kamu dari tempat ini kerana kewujudanmu menghalang hujan daripada diturunkan oleh Allah swt kepada kami semuanya."

Mendengar seruan daripada Nabi Musa as maka orang derhaka yang dimaksudkan itu berasa sangat serba salah. Dia melihat ke kanan dan ke kiri, namun dia tidak melihat seorang pun yang keluar. Dengan demikian yakinlah dia bahawa yang dimaksudkan oleh Nabi Musa as itu ialah dirinya sendiri. Dalam hatinya timbullah penyesalan yang amat mendalam. Dia berkata dalam dirinya: " Jika aku keluar daripada kumpulan ini nescaya akan terbukalah segala kejahatan yang telah aku lakukan selama ini. Di manakah akan diletakkan maruah dan kemuliaan keluargaku? Tentulah mereka akan dipandang hina keranaku. Akan tetapi jika aku tetap bersama mereka pasti hujan tidak akan diturunkan oleh Allah swt. Ya Allah, Kesalnya aku, malunya aku. Terimalah taubatku, aku berjanji tidak akan mengulangi maksiat-maksiat itu lagi. Ya Allah sesungguhnya aku telah derhaka kepadaMu selama lebih 40 tahun, walaupun demikian Engkau masih memberikan kesempatan kepadaku dan sekarang aku datang kepadaMu dengan ketaatan maka terimalah taubatku ini. Jangan dibuka keaibanku di hadapan ramainya hamba-hambaMu dan nabi-nabiMu." Akhirnya lelaki itu bertekad menundukkan kepalanya kerana bimbang dilihat oleh orang ramai yang mencari-cari siapa sebenarnya pesalah yang dikehendaki itu. Beberapa detik selepas itu kelihatan awan berkumpul di langit seiring dengan itu hujan pun turun dengan lebatnya.

Melihat keadaan demikian maka Nabi Musa as berkata: " Tuhanku mengapakah Engkau mengurniakan nikmat dan rahmat hujan kepada kami sedangkan pesalah belum lagi menyerah diri?" Allah swt berfirman yang bermaksud: " Wahai Musa, aku menurunkan hujan ini juga disebabkan oleh orang tersebut yang dahulunya menjadi sebab Aku tidak menurunkan hujan kepada kamu." Nabi Musa as berkata: Tuhanku lihatkanlah kepadaku siapa sebenarnya hambaMu yang dimaksudkan itu?" Allah swt berfirman maksudnya: " Wahai Musa dahulu ketika dia melakukan maksiat dan derhaka kepadaKu, Aku tidak pernah membuka aibnya. Apakah sekarang Aku akan membuka aibnya itu ketika dia kembali melakukan ketaatan kepadaKu?"

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...